Sebuah Cerita Tentang Kami

Papan CaturUdara
dingin tadi malam yang menyelimuti kota Jakarta sebetulnya sangat
membuat tidur semakin nyenyak, tapi entah mengapa mata ini belum juga
mau terpejam padahal lampu kamar telah dimatikan, adik saya Ameliapun
mengalami hal yang sama,“ susah tidur “,begitu katanya, kebetulan kami
tidur dalam satu kamar yang sama. mungkinkah ini efek dari tidur siang
yang kami lakukan secara masal, pasalnya hari minggu adalah hari yang
kami klaim sebagai hari khusus bermalas-malasan jika tidak ada agenda
untuk keluar rumah tentu saja, -Memanusiakan Manusia-
begitulah kira-kira kami menyebutnya. setelah dari hari senin sampai
jum’at yang terkadangpun hari sabtu sering terpakai untuk lembur atau
kuliah buat adik saya, sangatlah wajar jika tubuh dan pikiran ini
beristirahat sejenak , pun setelah pagi harinya ia tetap bekerja
membersihkan rumah dan sebagainya.

 

Kembali ke persoalan mata yang tak jua kunjung
terpejam, iseng-iseng si adik membuka menu permainan di Handponenya,”
main catur saja” katanya, aha! “ mari kita main berdua”, usulku yang
disambut gembira olehnya. Catur oh catur telah lama sekali saya tidak
memainkan permainan ini, selepas kuliah kira-kira, berarti sekitar
kurang lebih empat tahunan yang lalu, wow!semoga saja saya belum lupa
cara bermainnya.tak lama kemudian permainanpun dimulai, adik saya
memilih warna putih sebagai jagoannya, karena tidak ada pilihan lain,
tentu saja warna hitam yang jadi andalan saya.dengan lincah ia mainkan
pion miliknya, beeuh! bak pecatur profesional saja lagaknya, benar saja
empat kali langkah “ ratu” milik saya telah lahap dimakannya, hati
semakin miris dibuatnya, terbayang sudah kekalahan yang nyata, tapi
tenang saja hanya sebuah “ ratu” toh saya masih mempunyai dua menteri
pertahanan (benteng), dua menteri olahraga (seluncur) dan dua panglima
perang (kuda) serta beberapa pion yang setia melindungi sang raja,
begitulah suara hati saya yang memberikan dukungan sepenuhnya pada
permainan malam ini. Mengenai status “menteri” yang kami berikan, itu
hanyalah istilah yang kami berikan suka-suka hati, hanya untuk menambah
kebahagian dalam permainan ini, tak seorangpun yang berhak memprotes
ataupun mencekalnya karena permainan malam ini, kamilah yang
berkuasa.Tiba-tiba timbul niat saya untuk menggoda sang adik, saya
katakan padannya bahwa mata saya mulai mengantuk dan memintanya untuk
segera mengakhiri permainan ini, ho-ho apa yang terjadi?! Si adik mulai
uring-uringan meminta pada saya untuk terus melanjutkan permainan
ini-tentu saja ini adalah senjatanya untuk mengejek saya, jika akhir
dalam permainan ini saya kalah dibuatnya-. setelah puas menggoda,
sebagai seseorang yang mempunyai jiwa ksatriawati lalu saya teruskan
permainan ini, begitulah, ternyata dalam permainan ini sayalah anak
mudanya, seperti yang digambarkan oleh film-film dimana jagoannya
selalu kalah di awal permainan dan menang pada akhir pertandingan,
rupanya keberuntungan sedang berada di pihak saya, beberapa kali adik
saya lengah sehingga satu persatu pasukan perangnya “tewas” ditangan
saya, mula-mula pion, lalu menteri pertahanan , lalu panglima perang,
kemudian menteri olah raga dan yang yang kemudian membuat hatinya
sedikit ketar ketir adalah ketika menteri pertahanan saya men-ster “
ratu” miliknya. Bagaikan buah simalakama, jika ”ratu” miliknya nekat
menewaskan menteri pertahanan saya, maka panglima perang saya telah
siaga pada area L dan siap membalas dendam kepadanya, tapi jika sang
ratu memilih jalan lain untuk menyelamatkan dirinya maka Raja-lah yang
menjadi tumbalnya, hanya ada dua pilihan, korbankan Ratu atau akhiri
permainan dengan tidak menyelamatkan sang Raja, dalam kebingungannya
memilih tiba-tiba ditutupnya aplikasi permainan ini sambil berteriak “
Sudahan aaahh” tentu saja itu dilakukannya sambil tertawa-tawa dengan
maksud menggoda saya,berakhirlah permainan ini, adikku telah putus asa,
pikirnya bagaimana ia bisa menyelamatkan sang Raja jika sang Ratu yang
menjadi andalannya tewas seketika, lantas apakah saya marah padanya?
Tidak! Ini hanyalah sebuah permainan, yang awalnya kami niatkan sebagai
penghibur belaka, tentu saja sikapnya ini adalah bahan saya untuk
menggodanya dikemudian hari, akhirnya kami tertawa bersama-sama.

 

Malam makin larut dalam kesunyian, adik saya
telah terlelap dalam mimpinya, namun mata ini tak kunjung terpejam
juga, kembali teringat tentang permainan yang beberapa menit lalu kami
mainkan, saya hanya bisa tersenyum jika mengingatnya, permainan atau
pertandingan dalam bentuk apapun pada akhirnya harus mempunyai siapa
yang kalah dan siapa yang menang, begitu pula hendaknya partai-partai
politik dinegara kita ini, harus mengakui kemenangan lawan meskipun
terkadang dia mendapatkan kemenangan itu dengan kecurangan, percayalah
kemenangan yang didapat dari kecurangan tidak akan bertahan lama karena
:


Selamanya Kebenaran Tidak Akan Terkalahkan

yang perlu dilakukan adalah mundur selangkah, atur
strategi untuk kemudian maju lagi dalam kompetisi berikutnya, tidak
dengan bersikap anarkis , melempar asbak atau gontok-gontokkan dalam
sidang misalnya dan parahnya lagi kejadian memalukan itu disaksikan
oleh berjuta-juta rakyat yang akan dipimpinnya. Rakyatpun berkata “
ternyata pemimpinku hanyalah seorang anak kecil”

Jangan ambil masa kanak-kanak anakmu jika tidak ingin ia kelak menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan

 

Oaaaagh….ternyata mata ini mulai terkantuk.Selamat malam Jakarta

Leave a Reply