Bila Nasi Telah Menjadi Bubur
“Marilah nak kemari..menangislah didada mama, ini
bukanlah kesalahanmu seorang diri saja, ini kesalahan mama…mari sini
sayang..menangislah didada mama”
Ia mulai menyadari semua kesalahannya, tatkala semua telah
terlambat.Nasi telah menjadi bubur.Tapi haruskah semua
berakhir?tidak!selama jantung masih berdetak, selama nadi masih
berdenyut dan paru-paru masih bernafas, semua tak bisa diakhiri, semua
tak bisa dihindari ataupun dibuang begitu saja karena masih ada hati
disana, masih ada asa yang tergantung menunggu uluran sayang dan
cintanya.
Orang tua yang sibuk dengan pekerjaan mereka,
sibuk dengan urusannya sendiri yang dalam kesehariannya tak punya waktu
lagi untuk anak mereka meski hanya menanyakan kabarnya hari
ini.Sangkanya dengan hanya memberikan hak anak berupa materi maka
selesailah kewajiban mereka sebagai orangtua.
Maka lihatlah jiwa yang rapuh, jiwa yang masih
mencari-cari jati diri, dan haus akan kasih sayang orangtua, mereka
kini telah tersesat jauh di lorong gelap.Sedemikian jauhnya mereka
terdampar pada sebuah kehidupan bebas tanpa aturan dan batas. Hidup
berkawan setan dan bersahabat iblis. Bisa saja tawa mereka berderai
keras saat mengelar pesta bersama para iblis, pestanya bisa berbentuk
apa saja dalam zona larangan.tetapi lihatlah lebih jauh kedalam jiwa
mereka, yang ada hanyalah kekosongan dan kehampaan.
Dulu sekali aku punya cita-cita
Ketika aku belum tahu betapa kerasnya hidup ini
Ingin kucoba meraihnya
Tapi aku sadar aku takkan bisa
Tanpa bantuanmu Ayahanda
Tanpa bantuanmu Ibunda
Tak sekedar materi buatku bahagia
Keikutsertaanmu dalam setiap detik hidupku
Membuat aku merasa lebih berguna
Duluuu sekali…Aku punya cita-cita.
Jika telah begitu, patutkah para orang tua
mencaci-maki anak perempuan mereka yang kedapatan telah hamil diluar
nikah atau anak lelaki mereka yang kecanduan narkoba. Pantaskah? Lalu
membuang mereka begitu saja seolah-olah ini hanyalah kesalahan mereka
seorang diri saja.Wahai….sungguh naif sekali.
Kini nasi telah menjadi bubur. membuangnya
begitu saja bukanlah sebuah pilihan yang bijaksana.Lihat dan pahami
bahwa bubur yang membutuhkan sedikit pengolahan rasanyapun akan menjadi
nikmat.Begitupula anak yang terperosok jauh ke lembah hitam.mereka
adalah korban.sebuah kesalahan yang bukan hanya terjadi karena
kesalahan mereka seorang diri saja.Bercerminlah untuk melihat diri
sendiri, bagaimana cara para orang tua mendidik mereka, adakah
kesalahan dalam pengasuhannya.tak guna lagi kini mencari siapa yang
salah, menarik tubuh mereka kedalam pelukan orangtua merupakan solusi
yang luar biasa,jangan biarkan mereka kembali kedunia kelam.perbaikilah
keadaan, masih ada cahaya terang di ujung lorong sana.
Jikapun kau nekat menghujat mereka, maka jangan salahkan jika aborsi dan bunuh diri menjadi pilihannya.tahukah engkau bahwa jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2jt pertahun, dan tingkat bunuh diri mencapai lima puluh ribu orang per tahun dan kau turut bersumbangsih terhadap angka itu.
Maka mari perbaiki keadaan wahai orangtua dan
calon-calon orangtua bahwa kesalahan dan masalah yang timbul harus
diselesaikan dan jadikanlah itu sebagai cerminan atau sejarah sehingga
dikemudian hari tidak akan pernah terulang lagi.