Mendadak Nulis
Versi Film dari Novel Best seller karangan Habiburrahman El
Shirazy, film yang ditunggu-tunggu–tak terkecuali saya-,semoga ini adalah awal
yang lebih baik untuk perfilm-an Indonesia, meskipun beberapa orang yang telah
menonton film ini memberikan komentar yang negatif dan pesimis tetapi saya
adalah salah seorang dari beberapa orang yang menunggu perfilm-an Indonesia berproses
menjadi lebih baik lagi.Beberapa waktu yang lalu saya pernah ikut seminar yang
salah satu pembicaranya adalah seorang sutradara juga suami artis terkenal mbak
Anneke putri yaitu Syaeful G. Wathon, seorang peserta seminar bertanya apakah
Bapak Syaeful G. Wathon juga berniat untuk membuat film seperti Ayat-ayat Cinta,
lalu ia mulai bercerita bahwa ia dulu pernah menyutradarai dimana dalam film
tersebut ada adegan pemerkosaannya,lalu ia mulai berfikir bagaimana
menggambarkannya secara tidak vulgar kedalam bentuk film, kemudian ia hanya
menampilkan suara wanita yang diperkosa…tetapi alhasil produser menjadi sangat murka.Dan
beginilah cerminan dari perfilm-an Indonesia saat ini, yang sangat menjujung
tinggi pornografi , mereka bilang “ Jika tidak begitu, tak laku!”.Weits siapa
bilang?!.Tidakkah kita berfikir bahwa membuat suatu karya film membutuhkan
banyak orang yang terlibat didalamnya, di sana perlu seorang produser dan artis
yang handal dan mau berperan dalam sebuah film religius serta pemilik modal yang tidak mudah untuk meyakininya
bahwa membuat film tanpa pornografi-pun mampu mempunyai nilai jual.Maka dengan
adanya film Ayat-ayat Cinta alangkah lebih bersyukurnya kita karena dapat
membuat film yang satu langkah lebih baik secara moril.
Mendadak nulis setelah membaca banyak artikel tentang review
film AAC yang berkomentar miring, ditulis dengan terburu-buru tapi tetap dalam
kesadaran penuh , baru berkesempatan memposting karena sibuk..ee lebih tepatnya
sok sibuk!
, sambil menunggu jemputan
adek tersayang
Satu puisi yang
aku suka :
Tanyaku padamu
Tanyaku Padamu
Oleh : Shelly Natalia
Dunia
Selalu ada salah dalam
setiap langkah kami
Sehingga kritik selalui
mengintai
Hentakan tapak kaki
Satu prototipekah
pandanganmu pada kami
Pemberontak, liar, tak
berdaya, tak berguna, tak tahu diri
oleh :
Shelly Natalia
Dunia
Selalukah ada
salah dalam setiap langkah kami
Sehingga kritik selalu mengintai
Hentakan tapak kaki
Satu prototipekah pandanganmu pada kami
Pemberontak, liar, tak berdaya, tak
berguna, tak tahu diri
Diumumkan deretan aturan segala kekangan
dalam napas
Panduan sikap kamus yang sempurna
Dengan cara itukah mereka dibina wahai
dunia
Seakan berjalan dalam langkah disertai
pemberat besi
Penonton di segala sisi
Ditambah tatapan mata terpatri
Orang berkata
Jangan begini tidak begitu
Kami dulu tidak seperti ini
Lalu seperti apa mereka dulu
Tuan dan Nyonya sempurna?
Bilakah kami terbang jika dijatuhkan
Bilakah kami tinggi kala direndahkan
Yang kami butuhkan tidak paksaan tidak
aturan
Tapi dorongan dan kepercayaan
Bolehkah?
