Mendadak Nulis

Images_1

Versi Film dari Novel Best seller karangan Habiburrahman El
Shirazy, film yang ditunggu-tunggu–tak terkecuali saya-,semoga ini adalah awal
yang lebih baik untuk perfilm-an Indonesia, meskipun beberapa orang yang telah
menonton film ini memberikan komentar yang negatif dan pesimis tetapi saya
adalah salah seorang dari beberapa orang yang menunggu perfilm-an Indonesia berproses
menjadi lebih baik lagi.Beberapa waktu yang lalu saya pernah ikut seminar yang
salah satu pembicaranya adalah seorang sutradara juga suami artis terkenal mbak
Anneke putri yaitu Syaeful G. Wathon, seorang peserta seminar bertanya apakah
Bapak Syaeful G. Wathon juga berniat untuk membuat film seperti Ayat-ayat Cinta,
lalu ia mulai bercerita bahwa ia dulu pernah menyutradarai dimana dalam film
tersebut ada adegan pemerkosaannya,lalu ia mulai berfikir bagaimana
menggambarkannya secara tidak vulgar kedalam bentuk film, kemudian ia hanya
menampilkan suara wanita yang diperkosa…tetapi alhasil produser menjadi sangat murka.Dan
beginilah cerminan dari perfilm-an Indonesia saat ini, yang sangat menjujung
tinggi pornografi , mereka bilang “ Jika tidak begitu, tak laku!”.Weits siapa
bilang?!.Tidakkah kita berfikir bahwa membuat suatu karya film membutuhkan
banyak orang yang terlibat didalamnya, di sana perlu seorang produser dan artis
yang handal dan mau berperan dalam sebuah film religius serta pemilik modal yang tidak mudah untuk meyakininya
bahwa membuat film tanpa pornografi-pun mampu mempunyai nilai jual.Maka dengan
adanya film Ayat-ayat Cinta alangkah lebih bersyukurnya kita karena dapat
membuat film yang satu langkah lebih baik secara moril.

 

Mendadak nulis setelah membaca banyak artikel tentang review
film AAC yang berkomentar miring, ditulis dengan terburu-buru tapi tetap dalam
kesadaran penuh , baru berkesempatan memposting karena sibuk..ee lebih tepatnya
sok sibuk! :P  , sambil menunggu jemputan
adek tersayang :D

 

Satu puisi yang
aku suka :

 

Tanyaku padamu

 

Tanyaku Padamu

Oleh : Shelly Natalia

 

Dunia

Selalu ada salah dalam
setiap langkah kami

Sehingga kritik selalui
mengintai

Hentakan tapak kaki

 

Satu prototipekah
pandanganmu pada kami

Pemberontak, liar, tak
berdaya, tak berguna, tak tahu diri

 

 

 

 

oleh :
Shelly Natalia

 

Dunia

Selalukah ada
salah dalam setiap langkah kami

Sehingga kritik selalu mengintai

Hentakan tapak kaki

Satu prototipekah pandanganmu pada kami

Pemberontak, liar, tak berdaya, tak
berguna, tak tahu diri

Diumumkan deretan aturan segala kekangan
dalam napas

Panduan sikap kamus yang sempurna

Dengan cara itukah mereka dibina wahai
dunia

Seakan berjalan dalam langkah disertai
pemberat besi

Penonton di segala sisi

Ditambah tatapan mata terpatri

Orang berkata

Jangan begini tidak begitu

Kami dulu tidak seperti ini

Lalu seperti apa mereka dulu

Tuan dan Nyonya sempurna?

Bilakah kami terbang jika dijatuhkan

Bilakah kami tinggi kala direndahkan

Yang kami butuhkan tidak paksaan tidak
aturan

Tapi dorongan dan kepercayaan

Bolehkah?

 

Leave a Reply