Ketika membaca salah satu kisah nyata dari buku berjudul Kesaksian Seorang Dokter Mensucikan Hati Melalui Kisah-Kisah Nyata karangan
dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair,SpJP seorang dokter spesialis bedah
dan jantung di rumah sakit Riyadh, Saudi Arabia semakin membuka mata
hati bahwa saya, anda dan kita semua hanyalah sebuah perantara untuk
orang lain, hanyalah sebuah alat mobilitas sosial bagi orang lain untuk
pidah dari titik yang satu ke titik yang lainnya.seperti halnya rezeki
yang telah diatur sedemikian rupa untuk masing-masing hamba-Nya yang
mau berusaha dan mereka, kita, anda maupun saya hanyalah sebuah
matarantai pembagi rezeki bagi orang lain tersebut sesuai dengan porsi
yang telah Allah tentukan untuk-nya/kita.saya memcoba merangkum kisah
tersebut untuk kemudian saya posting-kan di blog ini dengan
maksud semoga saja kita-khususnya saya, selalu diingatkan bahwa kita
adalah seorang hamba, hanya sebuah perantara!yang tak berhak
menentukan, memvonis, atau menghakimi seseorang atas
hidupnya.mudah-mudahan.amin
[Rangkuman]Kesabaran dan Keyakinan
Pada kunjung awal
ke negara Moroko untuk mengadakan pengobatan-operasi jantung- secara
cuma-cuma khusus untuk kalangan fakir miskin dengan dana sukarela dari
seseorang di Saudi Arabia. Dr. Khalid bin Abdul Aziz Al Jubair dan dr.
Muhsin Ubaidillah harus menyeleksi calon pasien karena pembekalan yang
minim dan harus disalurkan kepada mereka-mereka yang diperkirakan akan
mendapatkan hasil dari operasi ini dengan izin Allah.
Di antara pasien
yang datang, ada seorang pasien yang telah berusia empat puluh tahun,
ketika melihat keadaannya dr. Khalid sangat khawatir, ia berjalan tiap
dua langkah berhenti untuk menghela nafas, perutnya membuncit karena
busung, kedua kakinya telah membengkak akibat dari jantung yang lemah,
urat-urat nadi di lututnya telah membesar dan wajahnya menyiratkan rasa
sakit dan penderitaan.
Ketika melihatnya
seperti itu, Dr. Khalid merasa khawatir, dan lebih ngeri lagi saat
ketika ia memeriksa catatan kesehatannya, maka Dr. Khalid mengingatkan
dr. Muhsin agar tidak memasukkannya di dalam daftar orang-orang yang
akan menjalankan operasi.Karena berdasarkan perkiraan Dr. Khalid,
operasi tidak akan memberikan banyak manfaat untuknya, ditambah lagi
bahwa kondisinya sangat mengkhawatirkan. Ternyata
orang tersebut mengerti apa yang Dr. Khalid katakan kepada dr. Muhsin,
maka ia segera menyahut, ”Ingat apa yang telah dikatakan oleh Tuhan-ku,
bukankah dia telah berfirman Dan apabila aku sakit.Dialah Yang akan menyembuhkan aku [1]
Dalam hal ini saya sangat yakin bahwa dengan izin Allah saya akan
sembuh. Wahai dokter, anda hanya perantara saja atas kesembuhan saya
ini, maka operasilah saya, karena sesungguhnya Allah-lah yang akan
menyembuhkan saya.”
Dr. Khalid mencoba
memberikan penjelasan dengan lemah lembut kepadanya, akan tetapi ia
tetap bersikeras minta dioperasi. Maka akhirnya Dr. Khalid katakan
kepadanya, ”Insya Allah, tidak akan terjadi kecuali yang baik.”Meskipun
dr. Khalid tidak merubah pendiriannya untuk mengoperasi orang tersebut.
Ketika dr. Khalid
mulai melakukan operasi kepada para pasien, orang itu dua kali datang
kembali, akan tetapi ia ditolak oleh dr. Muhsin.
Pada minggu terakhir dari masa tugas, dr. Dzafir al Khudhairi, ahli Anastesi-pembiusan-,
harus meninggalkan dr. Khalid untuk urusan yang penting, yang mana
mereka berdua telah sepakat sebelumnya bahwa operasi untuk kondisi
seperti orang ini tidak mungkin untuk dilaksanakan disini.Dan beliau
telah menolak untuk melaksanakan anestesi – pembiusan –terhadap seseorang yang kondisinya lebih bagus dari pada orang ini.
Setelah dr. Dzafir
pergi, pada minggu terakhir ini posisi anestesi digantikan oleh dr.
Musthafa al-Sabit, Pada minggu ini pula dr. Muhsin harus beristirahat
dua hari karena sakit. Orang tersebut datang kerumah sakit lagi dan
kemudian dr. Ilmi yang tidak tahu duduk permasalahannya memasukkan
orang tersebut ke dalam daftar tunggu pasien operasi.
Biasanya dr. Khalid
memeriksa pasien yang akan menjalani operasi pada malam hari sebelum
tiba hari pelaksanaan operasi, tepat pada malam hari dimana besok
paginya orang tersebut mendapatkan giliran operasi, dr. Khalid diundang
untuk makan malam dikota al Ribath dan pulang larut malam sehingga ia
malas untuk pergi memeriksa pasien yang akan dioperasi besok hari
kemudian ia berkata pada diri sendiri,” Insya Allah, besok aku akan
berangkat pagi-pagi untuk memriksa pasien yang akan dioperasi.”
Akan tetapi apa
yang terjadi? Allah takdirkan dr. Khalid bangun kesiangan lalu
tergesa-gesa berangkat ke rumah sakit, sesampai di rumah sakit ia hanya
sekilas memeriksa laporan dan tidak menelitinya dengan cermat,. Pada
saat itu dr. Khalid hanya kosentrasi pada hal-hal yang perlu
dilaksanakan terhadap pasien, yakni membenahi tiga titik katup.
Operasi telah
berjalan sesuai dengan rencana sedangkan pasiennya dalam kondisi yang
sangat stabil dan tenang,pasien yang telah dioperasi ditaruh kebangsal
pemulihan,setelah malakukan operasi dr Khalid pergi beberapa saat untuk
beberapa keperluan dan kembali lagi kerumah sakit untuk melihat kondisi
pasien, tiba-tiba dr. Muhsin mengajak dr. Khalid ke bangsal pemulihan,
disana mereka mendapatkan orang yang kondisinya sangat mengkhawatirkan
itu tengah duduk diatas bangsal pemulihan tanpa alat bantu
pernafasan,karena telah dilepaskan darinya. Dr. Khalid terkejut
bagaimana orang ini bisa masuk, kemudian dr. Muhsin menceritakan ketika
beliau absen karena sakit kemarin, orang ini mendatangi dr. Ilmi yang
kemudian memasukkannya kedalam daftar pasien yang menjalani operasi
hari ini karena dr Ilmi mengira bahwa dr. Khalid telah menyetujuinya.
Ketika pagi ini dr.
Muhsin masuk ia terkejut akan keberadaan orang ini lalu menjelaskan
kepada dr. Musthafa-ahli anastesi- bahwa dr. Khalid tidak bersedia
melakukan operasi terhadapnya, tetapi orang ini menangis dan memohon
untuk melakukan pembiusan terhadapnya sehingga dr. Musthafa menyerah
dan beliau mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab dan akan
menjelaskanya kepada dr. Khalid.
Seminggu
kemudian pasien tersebut telah keluar dari rumah sakit dan tiga bulan
kemudian kembali melakukan aktifitasnya yang telah ia tinggalkan sejak
dua tahun yang lalu.
Sesungguhnya
orang ini telah menyerahkan dirinya dan bertawakal sepenuhnya kepada
Allah, maka Allah Ta’ala memberinya kesabaran dan keyakinan akan
datangnya kesembuhan, karena itu ia memaksakan dirinya untuk
menjalankai operasi denga penuh keyakinan bahwa Allah yang Maha Pemberi
dan Maha Mulia akan menyembuhkannya, Allah Ta’ala berfirman ”Barang
siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia kan mengadakan baginya
jalan keluar. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”[2]
Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda,” Seandainya
kalian bertawakkal kapada Allah dengan sebenar-benarnya, pastilah Allah
akan memberimu rezeki sebagaimana Ia memberi rezeki kepada burung yang
keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, dan kembali dalam keadaan
kenyang”[3]
[1] QS. As-Syuara’ : 80
[2] QS. Ath-Thalaq : 2-3
[3] HR. Tirmidzi (4/573) (2344), disahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah (310)