Kisah Ada Surga di Telapak Kaki Ibu (Bag. II)
Lebih Taat dari Nabi Dawud AS
![]()
![]()
![]()
Dikisahkan,
suatu ketika nabi Dawud a.s. membaca kitab Zabur,lalu timbul kebanggaan
dalam hatinya saat membaca kitab itu. Terlintas dalam benaknya bahwa
didunia ini tak ada orang yang lebih taat beribadahnya daripada dirinya.
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Kemudian
Allah SWT menurunkan wahyu kepada sang nabi,” Naiklah ke gunung agar
kamu bisa melihat salah satu hamba-Ku yang telah beribadah kepada-Ku
selama 700 tahun seraya memohon ampunan kepada-Ku atas dosa yang telah
diperbuatnya.Padahalnya, sejatinya dia tidak pernah berbuat dosa.
Perasaan berdosa itu muncul dikarenakan pada suatu hari dia berjalan
diatas ibunya. Ibunya terkena debu, lantaran dia berjalan di atas
ibunya.Ketahuilah, laki-laki itu lebih taat beribadah daripada dirimu.
Pergilah kesana dan beritahukan bahwa dia telah mendapat ampunan-Ku.”
Kemudian Nabi Dawud a.s. pergi ke gunung. Di sana beliau berjumpa
dengan seorang laki-laki yang bersih sekali. Keagungan terpancar dari
dalam dirinya yang taat beribadah kepada Allah. Laki-laki itu sedang
salat. Seusai laki-laki itu salat, Nabi Dawud a.s. memberikan salam
kepadanya yang langsung dijawab lelaki itu.
![]()
![]()
” Siapa kamu?” tanya lelaki itu.
”Aku Dawud,” jawab Nabi Dawud a.s.
![]()
![]()
![]()
![]()
Kemudian
laki-laki itu berkata,” Jika aku tahu bahwa kamu adalah Dawud, maka aku
tidak akan menjawab salammu karena kamu telah berbuat dosa. Kamu telah
bersusah payah naik ke gunung, sementara kamu tidak memohon ampun
kepada Allah. Demi Allah, aku pernah berjalan dibawahnya. Lalu, ibuku
terkena debu karena aku berjalan diatasnya. Setelah itu, aku keluar
untuk mengasingkan diri selama 700 tahun, sedangkan aku tidak tahu
apakah ibuku murka kepadaku ataukah tidak. Niatku melakukan semua itu
hanya agar Allah dan ibuku memaafkanku. Sejak saat itulah, selama 700
tahun ini aku tidak meluangkan waktuku untuk makan dan minum karena
takut akan siksa Allah. Sekarang pergilah karena kamu telah mengganggu
ibadahku!”
![]()
![]()
![]()
Mendengar
semua itu, Nabi Dawud a.s pun angkat bicara, ” Allah SWT telah
mengutusku untuk memberitahumu bahwa Dia telah mengampuni dan juga
telah meridaimu. Sesungguhnya ibumu tidak berada di tempat yang rendah
ketika kamu berjalan diatas tempat yang tinggi. Begitulah, ibumu tidak
terkena debu sebagaimana yang kamu khawatirkan.”
”Demi
Allah, aku tidak ingin hidup lagi,” lalu dia bersujud dan
berdoa,”Tuhan, dekaplah aku dalam pangkuan-Mu,” lanju lelaki itu.
Tak lama kemudian, laki-laki itu menghembuskan nafas terakhirnya. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya.
|
Mampir Sejenak ! |
|
Dan |
![]()
![]()
![]()
Karena Kasih Ibu
Pada
suatu malam Khalifah Umar r.a ingin melihat secara langsung bagaimana
keadaan rakyatnya. Dalam agendanya, yang dituju adalah perkampungan
penduduk. Ketika berjalan melewati sebuah rumah, terdengar suara anak
kecil menangis Diapun berhenti di depan pintu rumah itu
untuk mengetahui apakah gerangan yang sedang terjadi. Dari dalam rumah
terdengarlah suara seorang ibu yang berbicara kepada anak-anaknya,”
Allah Mahaadil terhadap apa yang terjadi padaku dan Umar bin Khattab.”
![]()
![]()
![]()
Umarpun
berkeinginan hendak menghibur hati ibu yang sedang ditimpa kesedihan
itu. Lalu, dia mengetuk pintu dan memohon izin untuk memasuki rumahnya.
Khalifah Umar r.a. bertanya kepada ibu itu,”Apa yang telah dilakukan
Umar terhadapmu?”
![]()
![]()
Ibu
yang tidak mengetahui bahwa sesungguhnya orang yang bertanya itu adalah
Khalifah Umar r.a sendiri menjawabnya,” Dia telah menugaskan suamiku
untuk berperang ke medan laga, sedangkan anak-anakku dibiarkannya
kelaparan tanpa belanjaan sehari-hari sehingga mereka terus menangis.
Amirul Mukminin sampai hati membiarkan kami terlantar.”
![]()
![]()
![]()
![]()
Mendengar
p;enuturan demikian, Khalifah Umar r.a. langsung bergegas pulang ke
istananya dan mengambil sekarung tepung gandum berikut daging dalam
jumlah yang cukup banyak. Bahan makanan itu beliau pikul sendiri
dipunggungnya, lalu diantarkan kepada keluarga pejuang tersebut. Salah
seorang pegawainya yang mengetahui hal itu bermaksud untuk membantu dan
memanggul bahan makanan tersebut.”Sudilah kiranya Amirul Mukminin
meletakkannya dan biarkan aku yang membawanya,” Kata sipegawai memohon.
Khalifah
Umar r.a menjawab, Biarkanlah aku yang membawanya sendiri. Mungkin kamu
sanggup membawakan tanggunganku di dunia, sedangkan di akhirat,
siapakah yang akan menanggung dosa-dosa yang telah aku perbuat?”
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Setelah
tiba di rumah keluarga pejuang itu, Khalifah Umar r.a memasak tepung
gandum dan daging bawaannya itu dengan tangannya sendiri. Kemudian
setelah makanan itu siap, anak-anak keluarga pejuang itu dibangunkan.
Mereka diberi makan sampai kenyang. Selanjutnya Umar berkata, Anggaplah
ini sebagai penyesalanku agar di Hari Kiamat nanti kalian tidak
menuntut balas atas perbuatanku.”
Ibu itu menjawab,”Ya.”
Akhirnya Umar pun pulang dengan karung yang kosong ditangannya.
![]()
![]()
Dikisahkan,
15 tahun setelah Khalifah Umar r.a. meninggal dunia, ada seseorang yang
bermimpi berjumpa dengannya.”Kebajikan apa yang Anda terima dari Allah
SWT?” tanya lelaki yang bermimpi itu pada Umar yang dijawab Umar,” Kini
aku telah menyelesaikan hisabku.”
![]()
Allah
telah memerintah kalian untuk berlaku adil, berbuat kebaikan, dan
memberi kaum kerabat. Allah melarang perbutan keji, mungkar, serta
permusuhan. Dia menasehati kalian
supaya kalian mampu memetik pelajaran dari-Nya, (Q.S. An-Nahl [16] : 90)
![]()
|
Mampir Sejenak ! |
|
” |
