Kisah Ada Surga di Telapak Kaki Ibu (Bag. I)
Sang Pengendong Ibu
Suatu
ketika Nabi Sulaiman a.s. berkelana diantara langit-bumi. Lalu,
sampailah beliau pada suatu samudra yang sangat luas dan dalam. Kala
itu angin berhembus sangat kencang sehingga gelombang samudra itu
sangat besar. Nabi Sulaiman a.s. kemudian memerintahkan supaya angin
berhenti berhembus. Angin tunduk pada perintah nabi Sulaiman a.s.
Gelombang Samudra itupun menjadi tenang.
Kemudian
beliau memerintahkan jin ifrit untuk menyelam kedasar samudra.Jin ifrit
pun menyelam ke dasar.Ketika jin ifrit sampai ke dasar samudra, dia
melihat kubah permata putih yang tertutup rapat.
Dia
lalu membawa kubah permata putih itu kedaratan dan meletakkannya di
hadapan Nabi Sulaiman a.s. Beliau sangat kagum dengan keindahan kubah
permata putih itu. Kemudian beliau memanjatkan doa. Setelah doa
terpanjatkan, daun pintu kubah itupun bergetar. Pelan-pelan terbukalah
pintu kubah itu. Betapa terperanjatnya Nabi Sulaiman a.s. ketika pintu
kubah permata putih itu terbuka, yang didalamnya ternyata terdapat
seorang pemuda sedang sujud.
Kemudian
nabi Sulaiman a.s. menyapa pemuda itu ” Siapakah kamu?kamu ini
malaikat, jin atau manusia?” tanya nabi Sulaiman a.s. kala itu.
Pemuda itu menjawab,” saya ini manusia.”
Nabi Sulaiman a.s. bertanya lagi,” amalan kebajikan apa yang telah kamu lakukan sehingga memperoleh kemuliaan seperti ini?”
Pemuda
itu menjawab,” Dengan berbakti kepada kedua orangtua.Ketika itu ibu
saya telah lanjut usia, saya menggendongnya diatas punggung saya.Pada
saat itu terdengar ibu saya berdoa,” ya Allah, berikanlah ketenangan
dan kenikmatan hidup.Sepeninggalku nanti, berikanlah untuknya tempat
bukan dibumi dan bukan pula dilangit.” Sepeninggal ibu, saya berjalan
menyusuri tepian pantai. Saat itu saya melihat kubah permata putih.
Kemudian saya mendekatinya, tiba-tiba terbukalah pintunya.Sayapun masuk
kedalamnya. Setibanya saya didalam kubah, tiba-tiba pintunya tertutup
kembali.Lalu dengan izin Allah, kubah itu bergerak maju. Sayapun tidak
tahu pasti, dibumikah atau diudarakah saya berada. Namun saya tetap
memperoleh rezeki dari Allah yang tersedia di dalam kubah.”
” Bagaimanakah Allah memberikan rezeki kepadamu, sedangkan kamu berada didalam kubah?” tanya nabi Sulaiman a.s. penasaran.
Pemuda
itu menjawab, ” Ketika saya lapar, Allah langsung menciptakan pohon
dengan buah-buahannya.Allah memberikan buah-buahan itu sebagai rezeki
kepadaku.”
Nabi Sulaiman a.s. bertanya lagi,” Bagaimana dengan minumannya?”
Pemuda
itu menjawab,” Saat saya merasa dahaga, keluarlah air yang lebih putih
dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih dingin dari es.”
Nabi Sulaiman a.s bertanya lagi,” Bagaimana kamu bisa mengetahui silih bergantinya malam dan siang?”
Pemuda
itu menjawab, ” Apabila waktu fajar telah tiba, maka berubahlah warna
kubah menjadi memutih pertanda siang hari akan segera tiba. Ketika
matahari terbenam, maka berubahlah warna kubah menjadi gelap pertanda
malam segera tiba.”
Mengakhiri
dialognya dengan nabi Sulaiman a.s., pemuda itu brdoa kepada Allah SWT.
Tak lama kemudian pintu kubah permata putih itu tertutup kembali.
Pemuda itu kembali berada di dalamnya seperti semula.
Kawan Nabi Musa di Surga
Nabi
Musa a.s. ingin mengetahui siapakah kawannya kelak di surga. Beliau
lalu bermunajat kepada Allah, ” Ya Allah, tunjukkanlah siapakah kawanku
di surga? Allah SWT pun berfirman, pergilah ke negeri X (sambil
menunjuk kesuatu negeri) dan ke pasar Y (sambil menunjuk kesuatu pasar
di negeri yang ditunjuk sebelumnya. Di situ ada seorang laki-laki
penjual daging. Dialah yang akan menjadi kawanmu di surga.”
Setelah
menerima petunjuk wahyu tersebut, nabi Musa a.s. berangkat menuju ke
negeri itu. Sesampainya disana, beliau langsung menuju ke pasar tempat
penjual daging itu berjualan.Beliau tiba di toko penjual daging pada
waktu sore.
Karena
senja telah tiba, penjual daging itu berkemas untuk menutup tokonya.
Sebelum pulang, dilihatnya penjual daging itu memotong beberapa kerat
daging. Kemudian daging tersebut dimasukkan kedalam keranjang lalu
keluar dari tokonya untuk pulang kerumahnya.Ketika penjual daging itu
lewat, nabi Musa a.s. menyapanya seraya menyampaikan permintaan supaya
diperkenankan untuk singgah di rumahnya.
”Bolehkah saya mampir kerumahmu?” tanya nabi Musa a.s.
Penjual daging itu menjawab,”Silahkan.”
Nabi
Musa a.s pun diajak munuju rumah sipenjual daging. Sesampainya disana,
penjual daging itu mempersilahkan tamunya masuk. Setelah nabi Musa a.s.
masuk kedalam rumah, penjual daging mohon diri untuk memasak daging
yang dibawanya dari pasar. Daging tersebut diolah menjadi gulai yang
enak dan lezat.
Seusai
memasak gulai, dia menurunkan keranjang seukuran orang dewasa yang
tergantung diatas sebatang kayu. Ternyata di dalam keranjang besar itu
terdapat seorang nenek yang sudah sangat tua sekali.Tubuhnya lemah dan
sudah tak kuat lagi untuk berjalan. Nenek tua itu berada di dalam
keranjang tak ubahnya seperti anak burung merpati yang tak berdaya.
Laki-laki
itu mengangkat nenek tua dengan hati-hati dan menyuapinya sampai
kenyang. Setelah menyuapi nenek tua itu dengan makanan yang lezat, sang
penjual daging juga mengurus segala keperluannya, termasuk juga mencuci
pakaiannya. Ketika baju yang dikenakan nenek tua itu sudah kotor,
laki-laki tersebut segera menggantinya. Baju tersebut dicuci bersih,
lalu dijemur sampai kering.Setelah kering, dia memakaikan pakaian itu
kepada si nenek tersebut.
Laki-laki
itu mengurus nenek tua dengan sangat hati-hati, penuh perhatian,
teramat kasih, dan melimpah sayang. Di sela-sela lelaki itu mengurus
sang nenek tua, Nabi Musa a.s. melihat nenek tua itu menggerakkan dua
bibirnya. Menurut penuturan Nabi Musa a.s. ” Kedua bibir nenek itu
mengucapkan,” Ya Allah, tempatkanlah anakku bersama Nabi Musa di surga
kelak.”
Setelah
mengurus nenek tua itu, laki-laki penjual daging kembali
membaringkannya dalam keranjang. Kemudian menggantungkan keranjang
tersebut pada sebatang kayu.
Nabi
Musa a.s. bertanya, ”Siapakah nenek tua itu?” Penjual daging itu
menjawab, ” Ini adalah ibu kandungku yang telah lama tiada berdaya
untuk berdiri sendiri.”
Akhirnya
Nabi Musa a.s. berkata, ”terimalah kabar gembira dari Tuhanku
untukmu.Kenalkan, aku adalah nabi Musa, kamulah yang kelak menjadi
kawanku disurga. Mudah-mudahan perjumpaan kita nanti disurga dimudahkan
oleh Allahberkat keagungan asma-Nya dan berkat kemulian nabi Muhammad
SAW sebagai makhluk yang paling utama.”
|
Mampir Sejenak ! |
|
Kemuliaan |
Sumber : Buku ” Ada Surga di Telapak Kaki Ibu ” , Mokh. Syaiful Bakhri