Archive for November, 2007

Hidup Adalah …….

Wednesday, November 28th, 2007

MendakiTitik-Titik Keringat Perlahan Jatuh di Dahi

Derasnya Air Mata Mengalir di Pipi

Nafas yang Terengah-Engah Berpacu Dengan Waktu

 

Halal dan Haram Cara Bertahan Hidup

Dalam Rimba Masyarakat yang Bergerak Cepat

Jangankan Untuk Berhenti, Lambat Sedikit Saja

Roda Zaman Menghampiri

Melindas Tanpa Mau Mendengar Jerit Hati

 

Menghampiri Kegundahan Untuk Segera di Selesaikan

Memecut Hari Untuk Terus Bernafas Demi

Mereguk Nikmatnya Segala yang Diberikan Hidup

 

Harapan, Doa dan Syukur di Gantungkan Pada Sang M-A-H-A

Setelah Mengerahkan segala Usaha

Kepada Allah-lah Semua Bermuara

 

Mengamati Hitam Putihnya Proses Kehidupan

Memberikan Arti Tersendiri

Bahwa Hidup Adalah Perjuangan!!!

 

Hotel Santika, Jakarta [08.45]

281107

 


Karena Aku Wanita

Tuesday, November 27th, 2007

Air_mata_1Ugh! Lagi-lagi
ia selalu mendesak-desak untuk keluar, sudah semampuku menahan, sudah
semampuku bertahan tetap jua tak terlawan.Meski ia bagiku adalah obat
dari rasa marah, kesal dan sedih atau rasa bersalah yang tak mampu
kuungkapkan, tetapi ingin sekali kuteriakkan ”Hei jangan keluar
sekarang!ini bukan saatnya, ini bukan tempatnya!mengertilah…..nanti
saja jika semua orang tak ada…nanti saja jika malam telah gelap gulita”
Tetapi tanpa peduli apa yang otakku perintahkan, tetap saja kau mendesak-desak ingin keluar, ungkapkan rasa.

 

Pernah
sekali-waktu ku sembunyikan, mencoba tetap tersenyum walau hati
terluka, mencoba untuk tegar meski remuk redam segala asa,
tetapi….ah!air mata selalu saja tumpah,tak dapat diajak bekerjasama,mengapa?!itu karena ia lahir dari lubuk yang terdalam,  itu
karena ia ingin setia pada apa yang dikatakan hati, itu karena ia tak
mau mengingkari bahwa memang benar adanya benang merah antara air mata
dan perasaan.

 

Terkadang aku
tak jarang pula dibuat malu oleh ulah si air mata yang keluar tanpa
mampu melihat situasi dan kondisi lingkungan yang sedang kuhadapi, tak
peduli apakah aku sedang berada di dalam sebuah forum
formal, tak peduli apakah aku sedang berada disebuah angkutan umum, tak
peduli apakah aku berada dikeramaian orang…meskipun itu bukanlah sebuah
tangis raungan tapi cukup mampu menarik perhatian banyak orang.Duh
malunya!

 

Sendirinya aku pernah bertanya,”Kenapa sih begitu mudahnya megeluarkan air mata?”Jawabnya hanya satu…….Karena aku wanita!

 

  Berikan aku waktu kawan….,

 Kawan…. hanya 10 menit, 

 10 menit saja ya….

 Ya! Biarkan air mata obatkan

 ..obatkan hati yang terluka (

Jakarta,261107

Terimakasih ya Allah, Engkau masih anugrahi aku air mata,

Itu berarti bahwa Engkau masih memberiku bahagia setelahnya…

 

 

 

 

Kisah Anak Yang Berbakti Terhadap Ibunya

Friday, November 16th, 2007

Gb11

Takut Mendahului Ibu

 

 Imam
Ali Zainal Abisdin r.a adalah seorang yang sangat berbakti kepada
ibunya. Meski dikenal sebagai orang yang berbakti kepada ibunya, tetapi
dia tidak mau makan bersama ibunya.

 Salah
seorang sahabatnya pernah bertanya,” Anda ini orang yang paling
berbakti kepada ibu, mengapa kami tidak pernah melihat Anda makan
bersamanya?”

 Imam
Ali Zainal Abidin r.a. menjawab,” Ya, karena saya khawatir tanganku
mendahuluinya mengambil suatu makanan yang telah dipandangnya dan ingin
dimakannya. Jika demikian, aku pun telah mendurhakainya.”

 

Penghormatan Seorang Ulama pada Sang Ibu

 

 Haiwan
bin Syuraih adalah seorang ulama tersohor yang berbakti kepada ibunya.
Dia sama sekali tidak pernah menentang perkataan ibunya. Dia termasuk
ulama besar yang memiliki banyak murid.

 Suatu
hari ketika dia sedang mengajar murid-muridnya, ibunya datang ke
majelisnya. Ibunya menyuruhnya. ”Berdirilah, Haiwan! Berikan gandum ini
pada ayam-ayam,” perintah sang ibu.

 Seketika
itu juga Haiwan berdiri dari tempatnya mengajar. Dia tinggalkan
murid-muridnya untuk memenuhi perintah ibunya. Tanpa merasa risih dan
sungkan, dia memberikan gandum itu kepada ayam-ayam sebagaimana
diperintahkan oleh ibunya.

 

Mampir   Sejenak !

Melakukan   hal-hal kecil, sederhana dan seringkali dianggap hina bisa menjaga seseorang   agar selalu

rendah hati,   seberapapun tinggi dan terkemukanya ia di mata banyak orang.

 

 

Menyusui Ibu di Penjara

 Di
suatu negeri hiduplah seorang ibu bersama dengan seorang outrinya.
Suatu ketika si ibu melanggar peraturan negeri itu. Karena itu, si ibu
dihadapkan ke meja hijau untuk mempertanggungjawabkan
kesalahannya.Dalam persidangan, hakim memutuskan bahwa si ibu bersalah
dan dihukum dengan hukuman mati.Bentuk hukuman matinya adalah dengan
menjebloskan ibu itu ke penjara tanpa diberi makan sedikitpun.

 Tentu
saja si ibu sangat sedih menerima keputusan pengadilan yang menjatuhkan
hukuman mati kepadanya. Kesedihannya semakin bertambah karena dia harus
berpissah dengan putrinya.Terbayang bagaimana kehidupan putrinya nanti
dan siapa yang akan mengasuhnya.

 Meski
demikian, dia berusaha menjalani hukuman itu dengan tabah. Baginya, ini
merupakan suratan takdir yang harus dijalaninya. Tak lama, sejak
keputusan pengadilan dijatuhkan, si ibu langsung dijebloskan ke penjara.

 Meski
si ibu dijebloskan ke penjara, petugas penjara masih memberikan izin
kepada putrinya tersebut untuk menjenguknya. Dengan catatan, putrinya
itu tidak di perkenankan membawa makanan.

 Anehnya,
meski sudah dijebloskan ke penjara selama beberapa hari tanpa diberi
makan sama sekali, ibu itu masih tetap hidup. Hal ini membuat petugas
penjara curiga, jangan-jangan putrinya memberinya makan tanpa
sepengetahuan petugas.

 Untuk
itu, ketika putrinya datang menjenguk ibunya di penjara, diam-diam
petugas penjara mengintai apa yang dilakukan putrinya itu terhadap
ibunya sehingga bisa bertahan hidup. Petugas yang mengintai seakan
tidak percaya dengan apa yang disaksikan di dalam penjara. Ternyata,
putrinya itu menyusui ibunya.

 Segera
petugas penjara itu melaporkan kejadian tersebut kepada raja. Mendengar
laporan tersebut, raja tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh si
putri terhadap ibunya di penjara. Akhirnya, raja memutuskan untuk
membebaskan perempuan tua itu.

Mampir   Sejenak !

Sebuah
kisah ajaib tentang bakti anak terhadap ibunya. Ketulusan cinta kasih
terkadang bisa menjadikan apa pun yang mustahil jadi mungkin.

 

 

Kisah Ada Surga di Telapak Kaki Ibu (Bag. II)

Friday, November 16th, 2007

Gb8_1

Lebih Taat dari Nabi Dawud AS

 

 Dikisahkan,
suatu ketika nabi Dawud a.s. membaca kitab Zabur,lalu timbul kebanggaan
dalam hatinya saat membaca kitab itu. Terlintas dalam benaknya bahwa
didunia ini tak ada orang yang lebih taat beribadahnya daripada dirinya.

 Kemudian
Allah SWT menurunkan wahyu kepada sang nabi,” Naiklah ke gunung agar
kamu bisa melihat salah satu hamba-Ku yang telah beribadah kepada-Ku
selama 700 tahun seraya memohon ampunan kepada-Ku atas dosa yang telah
diperbuatnya.Padahalnya, sejatinya dia tidak pernah berbuat dosa.
Perasaan berdosa itu muncul dikarenakan pada suatu hari dia berjalan
diatas ibunya. Ibunya terkena debu, lantaran dia berjalan di atas
ibunya.Ketahuilah, laki-laki itu lebih taat beribadah daripada dirimu.
Pergilah kesana dan beritahukan bahwa dia telah mendapat ampunan-Ku.”
Kemudian Nabi Dawud a.s. pergi ke gunung. Di sana beliau berjumpa
dengan seorang laki-laki yang bersih sekali. Keagungan terpancar dari
dalam dirinya yang taat beribadah kepada Allah. Laki-laki itu sedang
salat. Seusai laki-laki itu salat, Nabi Dawud a.s. memberikan salam
kepadanya yang langsung dijawab lelaki itu.

 ” Siapa kamu?” tanya lelaki itu.

 ”Aku Dawud,” jawab Nabi Dawud a.s.

 Kemudian
laki-laki itu berkata,” Jika aku tahu bahwa kamu adalah Dawud, maka aku
tidak akan menjawab salammu karena kamu telah berbuat dosa. Kamu telah
bersusah payah naik ke gunung, sementara kamu tidak memohon ampun
kepada Allah. Demi Allah, aku pernah berjalan dibawahnya. Lalu, ibuku
terkena debu karena aku berjalan diatasnya. Setelah itu, aku keluar
untuk mengasingkan diri selama 700 tahun, sedangkan aku tidak tahu
apakah ibuku murka kepadaku ataukah tidak. Niatku melakukan semua itu
hanya agar Allah dan ibuku memaafkanku. Sejak saat itulah, selama 700
tahun ini aku tidak meluangkan waktuku untuk makan dan minum karena
takut akan siksa Allah. Sekarang pergilah karena kamu telah mengganggu
ibadahku!”

 Mendengar
semua itu, Nabi Dawud a.s pun angkat bicara, ” Allah SWT telah
mengutusku untuk memberitahumu bahwa Dia telah mengampuni dan juga
telah meridaimu. Sesungguhnya ibumu tidak berada di tempat yang rendah
ketika kamu berjalan diatas tempat yang tinggi. Begitulah, ibumu tidak
terkena debu sebagaimana yang kamu khawatirkan.”

 ”Demi
Allah, aku tidak ingin hidup lagi,” lalu dia bersujud dan
berdoa,”Tuhan, dekaplah aku dalam pangkuan-Mu,” lanju lelaki itu.

 Tak lama kemudian, laki-laki itu menghembuskan nafas terakhirnya. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya.

Mampir   Sejenak !

Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang
dan ucapkanlah :” Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana
mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.”(Q.S. Al-Isra:24)

 

 

 

Karena Kasih Ibu

 

 Pada
suatu malam Khalifah Umar r.a ingin melihat secara langsung bagaimana
keadaan rakyatnya. Dalam agendanya, yang dituju adalah perkampungan
penduduk. Ketika berjalan melewati sebuah rumah, terdengar suara anak
kecil menangis  Diapun berhenti di depan pintu rumah itu
untuk mengetahui apakah gerangan yang sedang terjadi. Dari dalam rumah
terdengarlah suara seorang ibu yang berbicara kepada anak-anaknya,”
Allah Mahaadil terhadap apa yang terjadi padaku dan Umar bin Khattab.”

 Umarpun
berkeinginan hendak menghibur hati ibu yang sedang ditimpa kesedihan
itu. Lalu, dia mengetuk pintu dan memohon izin untuk memasuki rumahnya.
Khalifah Umar r.a. bertanya kepada ibu itu,”Apa yang telah dilakukan
Umar terhadapmu?”

 Ibu
yang tidak mengetahui bahwa sesungguhnya orang yang bertanya itu adalah
Khalifah Umar r.a sendiri menjawabnya,” Dia telah menugaskan suamiku
untuk berperang ke medan laga, sedangkan anak-anakku dibiarkannya
kelaparan tanpa belanjaan sehari-hari sehingga mereka terus menangis.
Amirul Mukminin sampai hati membiarkan kami terlantar.”

 Mendengar
p;enuturan demikian, Khalifah Umar r.a. langsung bergegas pulang ke
istananya dan mengambil sekarung tepung gandum berikut daging dalam
jumlah yang cukup banyak. Bahan makanan itu beliau pikul sendiri
dipunggungnya, lalu diantarkan kepada keluarga pejuang tersebut. Salah
seorang pegawainya yang mengetahui hal itu bermaksud untuk membantu dan
memanggul bahan makanan tersebut.”Sudilah kiranya Amirul Mukminin
meletakkannya dan biarkan aku yang membawanya,” Kata sipegawai memohon.

 Khalifah
Umar r.a menjawab, Biarkanlah aku yang membawanya sendiri. Mungkin kamu
sanggup membawakan tanggunganku di dunia, sedangkan di akhirat,
siapakah yang akan menanggung dosa-dosa yang telah aku perbuat?”

 Setelah
tiba di rumah keluarga pejuang itu, Khalifah Umar r.a memasak tepung
gandum dan daging bawaannya itu dengan tangannya sendiri. Kemudian
setelah makanan itu siap, anak-anak keluarga pejuang itu dibangunkan.
Mereka diberi makan sampai kenyang. Selanjutnya Umar berkata, Anggaplah
ini sebagai penyesalanku agar di Hari Kiamat nanti kalian tidak
menuntut balas atas perbuatanku.”

 Ibu itu menjawab,”Ya.”

 Akhirnya Umar pun pulang dengan karung yang kosong ditangannya.

 Dikisahkan,
15 tahun setelah Khalifah Umar r.a. meninggal dunia, ada seseorang yang
bermimpi berjumpa dengannya.”Kebajikan apa yang Anda terima dari Allah
SWT?” tanya lelaki yang bermimpi itu pada Umar yang dijawab Umar,” Kini
aku telah menyelesaikan hisabku.”

 Allah
telah memerintah kalian untuk berlaku adil, berbuat kebaikan, dan
memberi kaum kerabat. Allah melarang perbutan keji, mungkar, serta
permusuhan. Dia menasehati kalian

supaya kalian mampu memetik pelajaran dari-Nya, (Q.S. An-Nahl [16] : 90)

Mampir   Sejenak !


jika kamu berbuat baik maka itu untuk diri kamu sendiri, jika kamu
berbuat jahat itu pun akan kembali kepada kamu sendiri” (Q.S. Al-Isra
17:7)

 

 

Kisah Ada Surga di Telapak Kaki Ibu (Bag. I)

Tuesday, November 13th, 2007

Sang Pengendong Ibu

 

Suatu
ketika Nabi Sulaiman a.s. berkelana diantara langit-bumi. Lalu,
sampailah beliau pada suatu samudra yang sangat luas dan dalam. Kala
itu angin berhembus sangat kencang sehingga gelombang samudra itu
sangat besar. Nabi Sulaiman a.s. kemudian memerintahkan supaya angin
berhenti berhembus. Angin tunduk pada perintah nabi Sulaiman a.s.
Gelombang Samudra itupun menjadi tenang.

 

Kemudian
beliau memerintahkan jin ifrit untuk menyelam kedasar samudra.Jin ifrit
pun menyelam ke dasar.Ketika jin ifrit sampai ke dasar samudra, dia
melihat kubah permata putih yang tertutup rapat.

 

Dia
lalu membawa kubah permata putih itu kedaratan dan meletakkannya di
hadapan Nabi Sulaiman a.s. Beliau sangat kagum dengan keindahan kubah
permata putih itu. Kemudian beliau memanjatkan doa. Setelah doa
terpanjatkan, daun pintu kubah itupun bergetar. Pelan-pelan terbukalah
pintu kubah itu. Betapa terperanjatnya Nabi Sulaiman a.s. ketika pintu
kubah permata putih itu terbuka, yang didalamnya ternyata terdapat
seorang pemuda sedang sujud.

 

Kemudian
nabi Sulaiman a.s. menyapa pemuda itu ” Siapakah kamu?kamu ini
malaikat, jin atau manusia?” tanya nabi Sulaiman a.s. kala itu.

 

Pemuda itu menjawab,” saya ini manusia.”

 

Nabi Sulaiman a.s. bertanya lagi,” amalan kebajikan apa yang telah kamu lakukan sehingga memperoleh kemuliaan seperti ini?”

 

Pemuda
itu menjawab,” Dengan berbakti kepada kedua orangtua.Ketika itu ibu
saya telah lanjut usia, saya menggendongnya diatas punggung saya.Pada
saat itu terdengar ibu saya berdoa,” ya Allah, berikanlah ketenangan
dan kenikmatan hidup.Sepeninggalku nanti, berikanlah untuknya tempat
bukan dibumi dan bukan pula dilangit.” Sepeninggal ibu, saya berjalan
menyusuri tepian pantai. Saat itu saya melihat kubah permata putih.
Kemudian saya mendekatinya, tiba-tiba terbukalah pintunya.Sayapun masuk
kedalamnya. Setibanya saya didalam kubah, tiba-tiba pintunya tertutup
kembali.Lalu dengan izin Allah, kubah itu bergerak maju. Sayapun tidak
tahu pasti, dibumikah atau diudarakah saya berada. Namun saya tetap
memperoleh rezeki dari Allah yang tersedia di dalam kubah.”

 

” Bagaimanakah Allah memberikan rezeki kepadamu, sedangkan kamu berada didalam kubah?” tanya nabi Sulaiman a.s. penasaran.

 

Pemuda
itu menjawab, ” Ketika saya lapar, Allah langsung menciptakan pohon
dengan buah-buahannya.Allah memberikan buah-buahan itu sebagai rezeki
kepadaku.”

 

Nabi Sulaiman a.s. bertanya lagi,” Bagaimana dengan minumannya?”

 

Pemuda
itu menjawab,” Saat saya merasa dahaga, keluarlah air yang lebih putih
dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih dingin dari es.”

 

Nabi Sulaiman a.s bertanya lagi,” Bagaimana kamu bisa mengetahui silih bergantinya malam dan siang?”

 

Pemuda
itu menjawab, ” Apabila waktu fajar telah tiba, maka berubahlah warna
kubah menjadi memutih pertanda siang hari akan segera tiba. Ketika
matahari terbenam, maka berubahlah warna kubah menjadi gelap pertanda
malam segera tiba.”

 

Mengakhiri
dialognya dengan nabi Sulaiman a.s., pemuda itu brdoa kepada Allah SWT.
Tak lama kemudian pintu kubah permata putih itu tertutup kembali.
Pemuda itu kembali berada di dalamnya seperti semula.

 

Kawan Nabi Musa di Surga

 

Nabi
Musa a.s. ingin mengetahui siapakah kawannya kelak di surga. Beliau
lalu bermunajat kepada Allah, ” Ya Allah, tunjukkanlah siapakah kawanku
di surga? Allah SWT pun berfirman, pergilah ke negeri X (sambil
menunjuk kesuatu negeri) dan ke pasar Y (sambil menunjuk kesuatu pasar
di negeri yang ditunjuk sebelumnya. Di situ ada seorang laki-laki
penjual daging. Dialah yang akan menjadi kawanmu di surga.”

 

Setelah
menerima petunjuk wahyu tersebut, nabi Musa a.s. berangkat menuju ke
negeri itu. Sesampainya disana, beliau langsung menuju ke pasar tempat
penjual daging itu berjualan.Beliau tiba di toko penjual daging pada
waktu sore.

Karena
senja telah tiba, penjual daging itu berkemas untuk menutup tokonya.
Sebelum pulang, dilihatnya penjual daging itu memotong beberapa kerat
daging. Kemudian daging tersebut dimasukkan kedalam keranjang lalu
keluar dari tokonya untuk pulang kerumahnya.Ketika penjual daging itu
lewat, nabi Musa a.s. menyapanya seraya menyampaikan permintaan supaya
diperkenankan untuk singgah di rumahnya.

 

”Bolehkah saya mampir kerumahmu?” tanya nabi Musa a.s.

 

Penjual daging itu menjawab,”Silahkan.”

 

Nabi
Musa a.s pun diajak munuju rumah sipenjual daging. Sesampainya disana,
penjual daging itu mempersilahkan tamunya masuk. Setelah nabi Musa a.s.
masuk kedalam rumah, penjual daging mohon diri untuk memasak daging
yang dibawanya dari pasar. Daging tersebut diolah menjadi gulai yang
enak dan lezat.

 

Seusai
memasak gulai, dia menurunkan keranjang seukuran orang dewasa yang
tergantung diatas sebatang kayu. Ternyata di dalam keranjang besar itu
terdapat seorang nenek yang sudah sangat tua sekali.Tubuhnya lemah dan
sudah tak kuat lagi untuk berjalan. Nenek tua itu berada di dalam
keranjang tak ubahnya seperti anak burung merpati yang tak berdaya.

 

Laki-laki
itu mengangkat nenek tua dengan hati-hati dan menyuapinya sampai
kenyang. Setelah menyuapi nenek tua itu dengan makanan yang lezat, sang
penjual daging juga mengurus segala keperluannya, termasuk juga mencuci
pakaiannya. Ketika baju yang dikenakan nenek tua itu sudah kotor,
laki-laki tersebut segera menggantinya. Baju tersebut dicuci bersih,
lalu dijemur sampai kering.Setelah kering, dia memakaikan pakaian itu
kepada si nenek tersebut.

 

Laki-laki
itu mengurus nenek tua dengan sangat hati-hati, penuh perhatian,
teramat kasih, dan melimpah sayang. Di sela-sela lelaki itu mengurus
sang nenek tua, Nabi Musa a.s. melihat nenek tua itu menggerakkan dua
bibirnya. Menurut penuturan Nabi Musa a.s. ” Kedua bibir nenek itu
mengucapkan,” Ya Allah, tempatkanlah anakku bersama Nabi Musa di surga
kelak.”

 

Setelah
mengurus nenek tua itu, laki-laki penjual daging kembali
membaringkannya dalam keranjang. Kemudian menggantungkan keranjang
tersebut pada sebatang kayu.

Nabi
Musa a.s. bertanya, ”Siapakah nenek tua itu?” Penjual daging itu
menjawab, ” Ini adalah ibu kandungku yang telah lama tiada berdaya
untuk berdiri sendiri.”

 

Akhirnya
Nabi Musa a.s. berkata, ”terimalah kabar gembira dari Tuhanku
untukmu.Kenalkan, aku adalah nabi Musa, kamulah yang kelak menjadi
kawanku disurga. Mudah-mudahan perjumpaan kita nanti disurga dimudahkan
oleh Allahberkat keagungan asma-Nya dan berkat kemulian nabi Muhammad
SAW sebagai makhluk yang paling utama.”

 

 

Mampir   Sejenak !

Kemuliaan
seorang hamba di sisi Allah tidak terletak pada tingginya jabatan dan
profesi. Kemuliaan diperoleh ketika seorang hamba memenuhi hati dan
dirinya dengan ketakwaan dan kasih sayang yang tulus.

Sumber : Buku ” Ada Surga di Telapak Kaki Ibu ” , Mokh. Syaiful Bakhri

 

Koleksi Buku-ku (Part One)

Thursday, November 8th, 2007

Buku-buku ini mulai saya koleksi pertengahan tahun 2007,
sebelum-sebelumnya saya juga sudah sering membeli buku tetapi nampaknya
waktu itu saya masih kurang care , sehingga buku-buku saya yang terdahulu raib entah kemana ( ….saat ini saya bercita-cita ingin punya perpustakaan umum, entah kapan dapat terealisasikan niat ini, mudah-mudah dapat terwujud yah :), kalaupun tidak terwujud, minimal saya punya perpustakaan pribadi…

Barangkali ada diantara teman-teman yang mau menghadiahkan saya buku
untuk menambah koleksi, dengan lapang dada saya menerimanya…hehehe D

Berikut koleksi buku saya, adakah yang sama dengan koleksi buku anda ?

  1. Ketika Cinta Bertasbih, Habiburrahman      El Shirazy
  2. Fenomena Ayat-Ayat Cinta, Anif      Sirsaeba El Shirazy
  3. Ayat-Ayat      Cinta, Habiburrahman El Shirazy
  4. Dzikir-dzikir      Cinta, Anam Khoirul Anam
  5. La      Tahzan, Dr Aidh Qarni
  6. Tips Menjadi Wanita paling Bahagia,      Dr Aidh Qarni
  7. Dokter Cilik, Hafal & Paham Al      Qur’an, Dina Y Sulaeman
  8. Nyanyian Cinta, Antologi Cerpen      Santri Pilihan
  9. Semoga Bunda di Sayang Allah, Tere      Liye
  10. Enstein      Ajah Gak Tau, Robert L Walke
  11. Mengoptimakan Performe Karyawan, Raja      Bambang Sutikno
  12. Pudarnya Pesona Cleopatra,      Habiburrahman El Shirazy
  13. Wanita yang di Rindukan Syurga, Dr.      Mushthafa Murad
  14. Akhi, Ukhti Nikah itu Nyunah, Mudah,      Murah, Bekah dan Indah, Abu Opick
  15. Simple Lie, Nina Ardianti
  16. Mudzakarah Kubur, Ust. A. Abdurrahman      Ahmad
  17. Kamar Cewek, Ninit Yunita & Okke      ” Sepatu Merah”
  18. Ketika Cinta Berbuah Syurga,      Habiburrahman El Shirazy
  19. Bikin      Novel Ngocol Yuk, Marthino Andries
  20. Perempuan      Mencari Tuhan, Dianing Widya Yudistira
  21. Perempuan      Berkerudung VS Gincu Merah & Rok Mini, Teguh Winarsho As
  22. Let      It Be My Secret, Aditya
  23. Ini Rumah Kita Sayang, Gola Gong      & Tyas Tatanka
  24. Supergirl Patah Hati, Kania
  25. Gege Mengejar Cinta, Adhitya Mulya
  26. Siapakah Ben Franklin, Denisils      Brindell Fradin
  27. Siapakah      Harry Houdini, Tui T Sutherland
  28. Mahatma      Gandhi, Kwok Yuen Ming
  29. Cerita Rakyat dari sulawesi Tenggara,      La Ode Sidu
  30. Siapakah Ronal Reagan, Joyce Milton
  31. Cerita Rakyat dari Solok (Sumatera      Barat), Ivan Adilla
  32. Siapakah Albert Einstein, Jess      Brallier
  33. Lelaki Pilihan, Arul Khan
  34. Bangku Kosong, Ruwi Meita
  35. Optimis Donk Guys, Afifah Afra
  36. The      Song of The Soul, Kahlil Gibran
  37. Ngejomblo      itu Nikmat, Ayub Yahya
  38. Lupus (Grafiti di Meja Ulangan),      Hilman & Boim Lebon
  39. Together      We Will Be (Komik), Mito      Orihara
  40. Ssssst….Im      Playgirl, Sari Azis
  41. 100 Pesan Nabi Untuk Wanita Salihah,      Badwi Mahmud Al Syaikh
  42. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, Drs.      Moh Rifa’i
  43. Dear Mr. Terrorist, Ita Sembiring
  44. Lupus(Terserang si Ehem), Hilman      & Boim
  45. Luka Seorang Bidadari, Salandra
  46. Kisah-kisah Pedih Perempuan, Enkapati
  47. Asma, Dr. Savitri Ramaiah
  48. Shi      Hwo Mong (Komik), Lee Joung – Eun
  49. Kepak      Sayap Patah, Asma Nadia
  50. Himpunan Hadist Sahih Bukhari, Ahmad      Sunarto&Syamsuddin Noar, S.Ag
  51. Puisi (Sembilu Revolusi), Imam      Satrioso
  52. Wise Words, Nur Aeni Iskandar
  53. Dari Pasir Menjadi Mutiara, Jansen      Sinamo
  54. Sejarah 25 Nabi dan Rasul, Mahfan,      S.pd
  55. Misteri      Sholat Subuh, Dr Rashib As Sirjani
  56. Kuntilanak,      Ve Handojo
  57. Hantu      Jeruk Purut, Yennie Hardiwidjaja
  58. Di Atas Sajadah Cinta, Habiburrahman      El Shirazy
  59. Dalam Mihrab Cinta, Habiburrahman El      Shirazy
  60. The      Spirit of Love, Kahlil Gibran
  61. Romantic      Voice, Kahlil Gibran
  62. Soulmate      Where’re You, Oeci
  63. Percikan Mutiara Para Sufi, Rafi      Sapuri, M.Si
  64. Lafaz Cinta, Sinta Yudisia
  65. Kisah yang Terlewatkan ”Holocaust”,      Judith Sandeen Bartel
  66. Kisah yang Terlewatkan ”Perang Dunia      II”, Colin Hynson
  67. Kisah yang Terlewatkan ”Titanic”, Senan      Malony
  68. Tahajud Cinta, Kinoysan
  69. 11 Amanah Lelaki Menjemput Keping      Hikmah, Bayu Gawtama
  70. Dibawah Naungan Cinta, Ibnu Hazm El      Andalusy
  71. Mukjizat Sedekah, Muhammad Thobroni
  72. Kisah Orang-orang Zalim, Muhammad      Abdud
  73. Synonyms & Antonyms, Idi Supono
  74. Remaja dilarang jadi Pengarang Beken,      So What?, Gamal Komandoko
  75. Bahasa Kaya Bahasa Berwibawa, Dr. R.      Kunjana Rahardi, M.Hom
  76. Para Ilmuwan Muslim Paling      Berpengaruh Terhadap Peradaban Dunia, Muhammad Ali Usman
  77. Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang      Gajian, Valentino Dinsi,SE,MM, MBA
  78. 30 Menit Pandai Berbahasa Inggris,      Peni R. Pramono Susana Setyarini
  79. Catatan Hati Seorang Istri, Asma      Nadia
  80. Neraka Bukan Untukmu, DR. Mustafa      Murad
  81. Karenamu Aku Cemburu, Asma Nadia
  82. Diary      Aisyah Putri, Asma Nadia, Biru Laut
  83. Butir-Butir Mutiara Kartini, Myrtha      Soeroto
  84. Tes Potensi Akademik, Drs. M.      HariwijayaBuku_1