Kulit Keriput, Topi dan Lelaki Janggut
Pagi belum lagi sempurna diufuk langit, separuh semesta masih enggan bangun dari tidurnya, hanya malam sisakan warna kelam namun perlahan tapi pasti akan hilang tergeser awan cerah yang sedang bersiap merampungkan tugasnya untuk menemani sang mentari menyinari hari.
Di sudut desa petani tua, keriput dan berjanggut dengan topi dikepalanya tampak keluar dari gubuk membawa cangkul dan bekal makanan yang ia panggul di punggungnya, berpamitan pada istri tercinta, memohon dido’akan agar burung-burung pipit itu tak lagi memakan padinya atau tak ada lagi tikus-tikus sawah yang tidak tahu aturan seenaknya saja bermain petak umpat di sawah mereka….http://violetroses.wordpress.com
September 18th, 2007 at 7:33 am
maaf ya mba boleh saya terusin ceritanya :
sore hari telah menjelang, terlihat di ufuk barat langit indah menguning dengan lembayung senja diiringi hembusan angin sore yang menyejukan jiwa, perlahan langkah demi langkah dengan segurat rona wajah yang lelah sang petani itu meninggalkan ladang kerjanya, tangan kanan menggenggam sisa makanan, tangan kiri membawa cangkul,burung pipit menari-nari diatas hamparan padi bukan untuk memakan padi tapi ikut bernyanyi mengiringi senja, tikus-tikus berlari-lari tapi bukan lagi main petak umpet tikus berlari karena dikejar oleh ular. pohon-pohon menunduk seoalah ingin sekali memberikan petunjuk bahwa hari telah petang, di istana peristirahatan telah menanti sebuah keluarga yang dicintainya sesosok istri yang begitu disayanginya. saat sang petani tiba dirumah, sang istri bergumam dalam hati “dia lah pahlawanku” pahlawan dalam hatiku.
September 18th, 2007 at 7:54 pm
Monggo mas Ade