Archive for June, 2007

Duhai Pemandu Jalan Akherat-ku

Tuesday, June 26th, 2007

Tujuan itu tampak jelas di depan mata
Indah, merayu-rayuku tuk kesana
Impian setiap jiwa yang beraga
Bukan impian muluk !
Bahwa aku ingin kesana

Sungguh tak mudah
Jalan-jalan berliku
Jalan-jalan terjal berbatu
Penuh onak dan duri
Ujian setiap insani

Duhai pemandu jalan akherat-ku
Engkau ketua tim dalam perjalanan ini
Antarkan kami ke surga Ilahi Rabbi
Tempat cinta sejati nan abadi

Duhai pemandu jalan akherat-ku
Tuntunlah kami agar tetap berjalan di Dien-Nya
Walau intan dunia menyilaukan mata
Pangkat dan harta telah bermetamorfosis
Seolah telaga padahal hanya fatamorgana

Duhai pemandu jalan akherat-ku
Tutuplah telinga kami
Ketika iblis telah mulai menyorakkan yel-yel mereka
Yang dapat membuat kami terpana akan bujuk dan rayuannya
Terpojok!
Dikepung dari segala arah

Duhai pemandu jalan akherat-ku
Berilah kami semangat pembangkit jiwa
Ketika kaki mulai terseok langkah
Penuh luka oleh cobaan dan ujian
Ketika kaki ini tak mampu lagi berdiri
Berdarah dan bernanah, Perih!
Tunjukkanlah pada kami
Bahwa lututpun masih mampu menjadi pengganti kaki
Dan ingatkanlah pada kami
Tentang janji Allah yang tertoreh dalam kitab suci
Bahwa ” Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan”

Duhai pemandu jalan akherat-ku
Aku tahu beban dipundakmu
Lebih berat dari berton-ton beras dalam goni
Dan … aku harap itu tak menyurutkan langkahmu
Untuk membawa kami, istri dan anak-anakmu
Ketelaga kautsar dan menghirup wangi kesturi

Pada akhirnya izinkan aku berkata :
” Terimakasih pemandu jalan akheratku, aku rela berbagi engkau dengan bidadari-bidadari surga”

( Ketika masanya nanti tiba, biarkan aku mencintaimu atas izin-Nya wahai pemandu jalan akheratku yang sekarang ntah ada dimana. Jakarta, 27 Juni 2007 [11:55] )

Free Image Hosting at ImageShack.us

My New Blog ^_^

Friday, June 22nd, 2007

Kunjungi Blog Aku yang ini juga yah teman….Terimakasih :)
Free Image Hosting at ImageShack.us

Cinta Yang Apa Adanya

Tuesday, June 12th, 2007

Cinta Apa Adanya

Hanya sekedar ungkapan kekaguman kepada seorang yang sangat berjiwa halus, yang dapat membuat novel-novelnya sebagai pembangun jiwa. Mengapa aku berani bilang bahwa penulisnya berjiwa halus padahal tatap mukapun hanya sekali dengannya, itupun tanpa ada dialog sama sekali, lewat novel-novelnya seperti Ayat-Ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Ketika Cinta Bertasbih 1, Nyanyian Cinta, Diatas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Berbuah Surga dan yang terbaru adalah Dalam Mihrab Cinta yang semuanya telah aku baca dan Masya Allah…..! sungguh indah bahasanya, mampu memainkan emosi dalam jiwa,ketika membacanya akupun ikut merasakan kebahagian Aisya ketika disunting Fahri dalam A2C, akupun merasakan kesedihan Raihana ketika di zalimi suaminya, akupun merasakan semangat Azzam yang luar biasa dalam bekerja demi dirinya dan keluarganya dalam Ketika Cinta Bertasbih, akupun merasakan rasa syukur yang tiada tara kepada Allah S.W.T seperti yang dirasakan Mahmud dalam Nyanyian Cinta, akupun merasakan kesedihan luar biasa yang dirasakan Syaiful ketika tak lagi ada orang yang percaya termasuk keluarganya sendiri Dalam Mihrab Cinta…ya, dari novel-novelnya tersebutlah aku merasakan kehalusan jiwa penulisnya, bukankah kata-kata cerminan jiwa. adalah Habiburrahman El Shirazy penulis novel-novel pembangun jiwa tersebut. seperti yang Prof. Laode M. Kamaluddin, Ph.D. bilang dalam prolog Ketika Cinta Bertasbih “Membaca karya Kang Abik (penggilan akrab penulis) adalah membaca ketulusan dan cinta ‘yang apa adanya’…kala merajut kata demi kata, maka apapun yang ditulisnya, sebiasa apapun tulisan itu, menjadi indah, menarik, berbobot, menyentuh hati, memotivasi, hidup, sampai ke hati pembacanya” …….ya, hanya cinta yang apa adanya, tulus, yang mampu membuat karya sebagus novel Habiburrahman El Shirazy.

Like Father, Like Son……ungkapan pribahasa ini memang benar adanya, ketika membaca fenomena Ayat-Ayat Cinta yang di tulis oleh Anif Sirsaeba El Shirazy yang tak lain adalah adik kandung dari Habiburrahman El Shirazy, betapa besarnya peran orangtua dalam pembentukkan tingkah laku dan akhlak mereka hingga mereka menjadi seperti sekarang ini.Seperti Sayyid Thoba Thoba’i yang menceritakan bagaimana ia mendidik Sayyid Husein, anaknya berusia 5 tahun yang telah mampu menghafal Al Qur’an beserta maknanya.Ia berkata : " Sebenarnya saya sebagai seorang ayah tidak pantas berpesan sebagaimana yg anda inginkan .Tetapi disini saya atas nama seorang pengajar Al Quran akan berpesan kepada para bapak & ibu …bagaimana saya mengajarkan Al Quran kepadanya. Yaitu pada awalnya para bapak ibu sendiri ….harus memiliki perhatian khusus terhadap Al Quran .Di rumah harus sering membaca Al Quran …kalau tidak …jangan harap anak2 menjadi seorang penghafal Al Qur’an ..menjadi Qori yang mampu memahami makna Al Qur’an “.

Aku pribadi, merasa banyak sekali pelajaran yang berharga bukan hanya dari novel-novelnya saja, tetapi dari kehidupan nyata Habiburrahman El Shirazy dan Cara mendidik orangtua mereka yang aku baca dalam Fenomena Ayat-Ayat Cinta.salahkah aku bila meneladani mereka?

Habiburrahman El Shirazy yang ingin seperti air, mengalir terus walau slalu ada bendungan menghadang, ingin seperti sifat air, selalu membersihkan yang kotor, ingin ikut menanamkan “saham” melalui karyanya untuk pola pikir generasi yang akan datang (semoga Allah mengabulkan keinginan mulianya).Terakhir pesan beliau : HIDUP HANYA SEKALI, MAKA BERUSAHALAH HIDUP AGAR SLALU DI RIDHAI ALLAH (hehehe…intinya sih begitu, kata2 yang sama persisnya sih aku lupa,afwan)

Ehem…akhir tulisan ini aku sangat menantikan Novel Ketika Cinta Bertasbih 2, yang kata Kang Abik akan di terbitkan kira-kira bulan Ramadhan……ya masih lama dong :(, sabar neng:P