Ukur kemampuanmu, kemampuanku
Ada cerita yang paling aku suka dari instruktur ketika ikut pada acara public training The Power of Empathy in Leadership beberapa waktu yang lalu, beliau menceritakan tentang percakapan ayah dan anak yang sedang jalan berdua ketika kota mereka dilanda banjir, sang anak berkata pada sang ayah “ ayah, banjirnya besar sekali “ sambil berjalan dengan susah payah untuk berusaha melawan air banjir yang ternyata tingginya sebatas leher sang anak, dan sang ayahpun menjawab “ tidak kok, banjirnya hanya biasa saja “ ayah menjawab demikian karena air banjir sangat mudah ia lewati dan tingginya hanya sebatas lutut sang ayah. Mungkin saja sang anak akan mengakui bahwa banjir itu hanya biasa saja, tapi tunggu setelah ia sebesar ayah. Dari cerita tersebut kita disuruh berfikir bahwa setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, jadi jangan memaksa seseorang melakukan sesuatu melebihi kapasitasnya, mungkin kita pernah mendengar atau mengalami sendiri seorang bos yang berkata “ mengapa anda lama sekali mengerjakan ini dan itu, sedangkan saya mengerjakannya hanya dalam hitungan menit!” bos ini ternyata lulusan S3 dari luar negeri dengan pengalaman kerja yang telah puluhan tahun berkata kepada karyawannya yang hanya lulusan SMU dengan pengalaman kerja masih dalam hitungan bulan, mungkin sang karyawan mampu mengerjakan tugas ini dan itu dalam hitungan menit, tapi tunggu jika diapun mampu menyelesaikan sekolah S3nya atau paling tidak mempunyai pengalaman kerja yang telah puluhan tahun. Sabar ya Pak, Bu, kemampuanku tidak sama dengan kemampuanmu dan para ahli jiwa sering mengatakan, “Buatlah batasan yang rasional (wajar) untuk setiap hal!”
Dalam hal inipun Allah berfirman :
Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu
(QS. Ath-Thalaq:3)
Yakni, letakkanlah setiap persoalan sesuai dengan ukuran, bobot dan kadarnya. Janganlah sekali-kali kita melakukan kezaliman dan melampaui batas.
Salam,
Violet Ros