Selamat Jalan …..

Ketika menulis ini,aku berada disalah satu hotel di sudut

Jakarta

, ditugaskan menjaga public training yang diadakan oleh kantor. Duduk di meja registerasi, membantu para peserta yang minta ini dan itu, mengingatkan waktu coffee break dan makan siang, beramah tamah dan sedikit basa-basi. Melihat orang lalu lalang, mondar-mandir didepanku, ada yang pakai dasi lengkap dengan jasnya sibuk mengangkat handphone yang tiap menit berdering, ada yang pakai kaos oblong dipadu dengan jeans belel bercanda tawa dengan kawannya, ada yang pakai rok mini baju yukensi duduk santai rias wajah dengan polesan di sana sini, dua wanita berjilbab melintas didepanku dengan senyum manisnya, pelayan hotel yang mondar mandir razia piring dan gelas kotor, sesekali peserta training keluar dari kelas menuju ke toilet untuk buang air. Semua tak saling peduli, sibuk dengan urusannya masing-masing. Dalam kesendirian, teringat kabar kemarin dari kakak sepupu tentang kak Neti yang juga masih mempunyai hubungan keluarga denganku, telah dulu dipanggil oleh Allah, terkejut, baru dua bulan yang lalu aku mengunjunginya, bercanda bersama, tertawa, bercerita, dan keadaan fisiknyapun dalam keadaan sehat-sehat saja. Tapi Allah berkehendak lain, inilah waktunya. Selamat jalan kak Neti, maaf aku tak bisa mengantar ketempat peristirahatanmu yang terakhir. Semoga Allah menerima semua amal baikmu dan menghapuskan segala khilaf dan salahmu. Amin

Puisi ini tercipta untukmu :

Kemarin … kau bersenda gurau denganku

Gelak tawamu memecahkan kesunyian yang membeku

Kita bercerita tentang langit dan bintang

Tentang belalang di padang ilalang

                   

Kemarin … kau masih sempat tanya kabarku

                     Tentang ini dan itu, begini dan begitu

                     Tak terasa teh ini sudah tiga kali di sedu

                     Maklumlah, kami jarang bertemu

Tapi hari ini … aku dapat kabar, kabar tentangmu

Katanya Tuhan telah memanggilmu

Untuk segera bertemu

‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun’

Terdiamku termangu

                     Ah,rasanya baru kemarin

                     Kita bercerita tentang langit dan bintang

                     Tentang belalang di padang ilalang

                     Teh buatanmu pun masih terasa manis ditenggorokan

                     Semanis tutur kata dalam sapaan

Selamat jalan saudaraku, tunggu aku dipersimpangan

Hari ini giliranmu

Mungkin malam, ini, esok atau lusa adalah giliranku

Siapa yang tahu ?

Selamat jalan saudaraku

Doa saudara dan handai taulan menyertai langkahmu

( Maka apabila telah datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) memajukannya )

   (QS : An-Nisa :78)

Imam Safi’i berkata :

Biarkan hari-hari melakukan apa yang dia mau,

Dan relakan jiwamu jika qadha’ telah ditetapkan.

Jika qadha’ telah turun,

Tak ada yang sanggup mencegahnya, tidak juga bumi dan langit.

Salam,

Violet Ros

Leave a Reply